Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, satu kata yang sudah sepatutnya terucap dengan sepenuh hati kita atas segala rahmat dan hidayah-Nya. Dia-lah yang Maha Tahu sedangkan kita bodoh. Dia-lah yang Maha Sempurna sedangkan kita, bahkan mendekati kata sempurna pun tidak.
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad, shalawat senantiasa kita curahkan kepada baginda rasulullah saw. sosok yang berhasil membawa ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin bagi seluruh alam.
Well, this is my first post that i'll publish and i really hope that this will give so many benefits for the readers. happy reading, everyone!!
Saya akan memulainya dengan mengutip salah satu perkataan doktor muslimah berhijab yang diwawancarai oleh wartawan asing yang menyatakan bahwa pakaian yang ia kenakan tidak mencerminkan pengetahuannya. Mereka menganggap bahwa 'Jilbab itu simbol keterbelakangan dan kemunduran.' Namun dengan cerdasnya, wanita ini menjawab dan mengatakan seperti ini "manusia di masa awal hampir telanjang. ketahuilah bersamaan dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini, manusia mulai mengenakan pakaian. apa yang saya kenakan hari ini justru merupakan simbol kecanggihan dan kemajuan berpikir yang telah dicapai manusia berabad-abad lamanya. adapun 'ketelanjangan' yang ada sekarang merupakan simbol keterbelakangan dan kembalinya manusia pada masa kejahiliyaan. Seandainya 'ketelanjangan' itu merupakan simbol kemajuan berpikir maka bisa dikatakan para binatang telah mencapai puncak peradaban. Subhanallah, jawaban yang begitu sempurna.
Di era yang modern ini, begitu banyak wanita yang belum mengerti tentang kewajiban berjilbab dalam Islam. Mereka tahu dan sadar akan adanya perintah untuk berjilbab oleh-Nya namun entah mengapa masih ada di antara mereka yang lalai akan perintah ini. Memang benar, Islam agama yang membawa kedamaian ini tidak pernah menyetujui adanya paksaan dalam bentuk apapun. tetapi bukankah sebagai seorang muslimah yang taat, kita sudah sepatutnya menunaikan apa yang diperintahkan oleh-Nya? sungguh sulit untuk berada di era ini, era dimana para wanita tanpa merasa malu menunjukkan auratnya seakan ingin menjadi pusat perhatian para lelaki, rela menghabiskan uang banyak hanya untuk mempercantik diri yang nantinya akan keriput tertelan usia, menghabiskan banyak waktu di depan cermin hanya untuk merias diri agar nampak cantik di hadapan para lelaki yang bukan mahramnya. Cerdas, cantik, mempesona, dan kaya raya itulah yang mereka banggakan.
akankah itu bertahan lama?
akankah itu memberikan kebahagiaan yang abadi?
akankah itu mengantarkanku pada ridho Allah?
akankah itu membuat hatiku tentram 'selamanya'?
terkadang pertanyaan-pertanyaan ini muncul, hanya kita yang berusaha mengabaikan jawabannya. hanya kita yang berusaha untuk tidak peduli dengan jawabannya. akan selalu ada yang lebih cerdas, akan selalu ada yang lebih cantik, akan selalu ada yang lebih mempesona, dan akan selalu ada yang lebih kaya. namun kita tidak pernah tahu akankah ada yang lebih taat kepada-Nya atau tidak, karena bukan kita yang menilai ketaatan itu.. tapi Allah. keikhlasan-lah yang menjadi kunci dari sebuah ketaatan. God always knows what's in our heart. sekecil apapun kita berbisik dalam hati kita, Allah Maha Tahu dan tidak ada yang dapat disembunyikan dariNya.
begitu banyak alasan untuk menunda-nunda berhijab padahal kewajiban berjilbab adalah wajib hukumnya bagi wanita yang sudah baligh, mulai dari alasan yang paling sederhana "Saya belum siap", "Biarkan saja, yang paling penting saya tetap menunaikan shalat dan puasa", "saya belum memiliki akhlak yang baik jadi saya belum pantas mengenakan hijab", "saya belum dapat hidayah" dan sebagainya.
Bagaimana pandangan islam tentang berhijab?
Aurat artinya segala hal yang wajib ditutup ketika shalat dan dilarang untuk dilihat di luar shalat (Al Mubdi, 359). Dalil-dalil mengenai batasan aurat wanita diantaranya,
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka” (QS. An Nur: 31).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”” (QS. Al Ahzab: 59).
Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata, Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya”. (HR. Abu Daud, hasan).
Dan inilah hadits yang paling saya sukai,
Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).
Sangat menyenangkan bukan jika kita berhasil dinobatkan sebagai sebaik-baiknya perhiasan dunia? bukan perhiasan emas ataupun perak. namun perhiasan yang terlalu luar biasa untuk dibandingkan dengan emas maupun perak yakni menjadi wanita yang shalihah. jika perkara belum siap adalah alasan kita untuk menunda berjilbab maka jauhkanlah alasan tersebut, sebelum kita merugi dengan alasan tersebut. tanyakan pada diri kita, "mengapa kita belum siap?" jika pertanyaan ini terjawab maka sungguh jawaban tersebut adalah jawaban yang terlalu dibuat-buat.
Renungkanlah firman Allah (yang artinya), “Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. An Nuur: 51). Ketika diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya, orang beriman mengatakan: “kami dengar, dan kami taat”, bukan “kami dengar, tapi nanti dulu saya belum siap”.
Bukan masalah belum siap yang menjadi alasan kita, kita memang hanya belum ingin menunaikan perintah itu. kita masih terlalu jauh dari-Nya. kita masih lebih mencintai apa-apa yang ada di dunia ini dibandingkan Allah yang Maha Pencipta. sulit mengakui bahwa dunia yang nampak begitu nyata ini hanyalah sebuah kepalsuan yang lebih palsu daripada akting para aktor hebat di televisi. namun itulah kenyataannya, kita bisa dibangunkan kapan saja dari kepalsuan ini. Dalam kondisi siap maupun tidak siap, mau tidak mau, itulah hakikat kehidupan yang tidak akan mungkin pernah abadi ini dan tidak satupun yang mampu menolaknya. percayalah, Islam adalah rahmatan lil alamin. maka perintah berjilbab pun merupakan sebuah rahmat, hal ini menunjukkan begitu Islam ingin meninggikan derajat wanita. bagaikan bunga yang dulunya kering terinjak-injak, kini dengan adanya Islam, wanita telah menjadi bunga musim semi yang bermekaran. Jilbab bukanlah sesuatu yang membawa keburukan namun justru sebuah kebaikan yang indah, jilbab inilah yang akan melindungi kita sebagai kaum wanita dari fitnah dan gangguan. namun bukan berarti mereka yang berjilbab akan sepenuhnya bebas dari berbagai bentuk gangguan, hanya saja mereka yang tidak berjilbab tentunya akan lebih rentan terhadap gangguan tersebut dibandingkan mereka yang berjilbab. Itulah hijab, hanyalah sebuah kain lembut namun layaknya perisai prajurit perang bagi wanita itu sendiri.
Jilbab merupakan identitas bagi seorang muslimah. Dengan jilbab, maka orang-orang dapat mengetahui bahwa kita adalah seorang muslimah. Jika alasan ukhti untuk tidak berhijab adalah karena yang penting ukhti menunaikan kewajiban shalat, puasa, zakat, berbuat baik sesama manusia dan sebagainya, maka pola pikir tersebut haruslah menjadi sebuah kesalahan yang nyata. memang benar, shalat fardhu, shalat sunnah, berpuasa ramadhan, berpuasa sunnah senin-kamis, zakat dan sebagainya adalah sebuat bentuk ketaatan dari seorang hamba terhadap Rabb-nya. namun, bukankah kita melakukan itu semua untuk mendapatkan ridho-Nya? maka anggaplah dengan memenuhi perintah berhijab ini maka akan menambah kelengkapan ketaatan ukhti untuk memperjuangkan ridho dariNya. Tidaklah lengkap sebuah rumah dengan segala pondasinya tanpa adanya pagar untuk melindungi rumah tersebut. kita umpamakan diri kita sebagai rumah dengan pondasi shalat, puasa dan zakat. oleh karena itu, kita membutuhkan jilbab sebagai pagar kita agar kita terlindungi. Berjilbab tidaklah harus terlebih dahulu memiliki akhlak yang baik, justru berjilbab haruslah disegerakan. karena merupakan langkah awal kita dalam memperbaiki segala keburukan yang ada pada diri kita. bagaimana jika kita tidak akan pernah sempat memperbaiki akhlak kita dan tidak sempat mengenakan hijab? sekali lagi, sungguh kita adalah manusia yang merugi. Yakin dan percaya, jilbab akan lebih mendekatkan kita kepada-Nya dari dulu yang jauh menjadi lebih dekat. menjadi lebih nyaman. menjadi lebih tentram.
"A hijab doesn't represent how religious you are. but it's a reminder that even when your imaan is low, you still belong to Islam."
Ada juga yang mengatakan bahwa mereka belum dapat hidayah. sungguh alasan ini sangatlah menggelitik, hidayah tidak mungkin datang jika kita tidak mencarinya bukan?. jika kita pikirkan secara logis, akankah uang datang dengan sendirinya apabila kita tidak bekerja? oleh karena itu, mulailah mencari hidayah tersebut dengan banyak mengingat-Nya dan menunaikan perintah berhijab untuk-Nya.
Peringatan bagi suami yang membiarkan istri dan anaknya tidak berhijab
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak masuk surga orang yang durhaka terhadap orang tuanya, dayyuts (suami yang membiarkan keluarganya bermaksiat), dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al Baihaqi, shahih). Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An Nawawi membuat judul bab: “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istrinya dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama”. Oleh karena itu, suami tentunya memegang tanggung jawab yang sangat besar bagi keluarganya terutama menyangkut menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Baiklah, mungkin cukup sekian untuk post kali ini. Semoga bermanfaat dan dapat membangunkan hati kita untuk segera berhijab untuk-Nya. Atas segala kekurangannya mohon dimaafkan, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, satu kata yang sudah sepatutnya terucap dengan sepenuh hati kita atas segala rahmat dan hidayah-Nya. Dia-lah yang Maha Tahu sedangkan kita bodoh. Dia-lah yang Maha Sempurna sedangkan kita, bahkan mendekati kata sempurna pun tidak.
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad, shalawat senantiasa kita curahkan kepada baginda rasulullah saw. sosok yang berhasil membawa ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin bagi seluruh alam.
Well, this is my first post that i'll publish and i really hope that this will give so many benefits for the readers. happy reading, everyone!!
Saya akan memulainya dengan mengutip salah satu perkataan doktor muslimah berhijab yang diwawancarai oleh wartawan asing yang menyatakan bahwa pakaian yang ia kenakan tidak mencerminkan pengetahuannya. Mereka menganggap bahwa 'Jilbab itu simbol keterbelakangan dan kemunduran.' Namun dengan cerdasnya, wanita ini menjawab dan mengatakan seperti ini "manusia di masa awal hampir telanjang. ketahuilah bersamaan dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini, manusia mulai mengenakan pakaian. apa yang saya kenakan hari ini justru merupakan simbol kecanggihan dan kemajuan berpikir yang telah dicapai manusia berabad-abad lamanya. adapun 'ketelanjangan' yang ada sekarang merupakan simbol keterbelakangan dan kembalinya manusia pada masa kejahiliyaan. Seandainya 'ketelanjangan' itu merupakan simbol kemajuan berpikir maka bisa dikatakan para binatang telah mencapai puncak peradaban. Subhanallah, jawaban yang begitu sempurna.
Di era yang modern ini, begitu banyak wanita yang belum mengerti tentang kewajiban berjilbab dalam Islam. Mereka tahu dan sadar akan adanya perintah untuk berjilbab oleh-Nya namun entah mengapa masih ada di antara mereka yang lalai akan perintah ini. Memang benar, Islam agama yang membawa kedamaian ini tidak pernah menyetujui adanya paksaan dalam bentuk apapun. tetapi bukankah sebagai seorang muslimah yang taat, kita sudah sepatutnya menunaikan apa yang diperintahkan oleh-Nya? sungguh sulit untuk berada di era ini, era dimana para wanita tanpa merasa malu menunjukkan auratnya seakan ingin menjadi pusat perhatian para lelaki, rela menghabiskan uang banyak hanya untuk mempercantik diri yang nantinya akan keriput tertelan usia, menghabiskan banyak waktu di depan cermin hanya untuk merias diri agar nampak cantik di hadapan para lelaki yang bukan mahramnya. Cerdas, cantik, mempesona, dan kaya raya itulah yang mereka banggakan.
akankah itu bertahan lama?
akankah itu memberikan kebahagiaan yang abadi?
akankah itu mengantarkanku pada ridho Allah?
akankah itu membuat hatiku tentram 'selamanya'?
terkadang pertanyaan-pertanyaan ini muncul, hanya kita yang berusaha mengabaikan jawabannya. hanya kita yang berusaha untuk tidak peduli dengan jawabannya. akan selalu ada yang lebih cerdas, akan selalu ada yang lebih cantik, akan selalu ada yang lebih mempesona, dan akan selalu ada yang lebih kaya. namun kita tidak pernah tahu akankah ada yang lebih taat kepada-Nya atau tidak, karena bukan kita yang menilai ketaatan itu.. tapi Allah. keikhlasan-lah yang menjadi kunci dari sebuah ketaatan. God always knows what's in our heart. sekecil apapun kita berbisik dalam hati kita, Allah Maha Tahu dan tidak ada yang dapat disembunyikan dariNya.
begitu banyak alasan untuk menunda-nunda berhijab padahal kewajiban berjilbab adalah wajib hukumnya bagi wanita yang sudah baligh, mulai dari alasan yang paling sederhana "Saya belum siap", "Biarkan saja, yang paling penting saya tetap menunaikan shalat dan puasa", "saya belum memiliki akhlak yang baik jadi saya belum pantas mengenakan hijab", "saya belum dapat hidayah" dan sebagainya.
Bagaimana pandangan islam tentang berhijab?
Aurat artinya segala hal yang wajib ditutup ketika shalat dan dilarang untuk dilihat di luar shalat (Al Mubdi, 359). Dalil-dalil mengenai batasan aurat wanita diantaranya,
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka” (QS. An Nur: 31).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31).
Allah Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”” (QS. Al Ahzab: 59).
Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha, beliau berkata, Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya”. (HR. Abu Daud, hasan).
Dan inilah hadits yang paling saya sukai,
Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).
Sangat menyenangkan bukan jika kita berhasil dinobatkan sebagai sebaik-baiknya perhiasan dunia? bukan perhiasan emas ataupun perak. namun perhiasan yang terlalu luar biasa untuk dibandingkan dengan emas maupun perak yakni menjadi wanita yang shalihah. jika perkara belum siap adalah alasan kita untuk menunda berjilbab maka jauhkanlah alasan tersebut, sebelum kita merugi dengan alasan tersebut. tanyakan pada diri kita, "mengapa kita belum siap?" jika pertanyaan ini terjawab maka sungguh jawaban tersebut adalah jawaban yang terlalu dibuat-buat.
Renungkanlah firman Allah (yang artinya), “Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. An Nuur: 51). Ketika diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya, orang beriman mengatakan: “kami dengar, dan kami taat”, bukan “kami dengar, tapi nanti dulu saya belum siap”.
Bukan masalah belum siap yang menjadi alasan kita, kita memang hanya belum ingin menunaikan perintah itu. kita masih terlalu jauh dari-Nya. kita masih lebih mencintai apa-apa yang ada di dunia ini dibandingkan Allah yang Maha Pencipta. sulit mengakui bahwa dunia yang nampak begitu nyata ini hanyalah sebuah kepalsuan yang lebih palsu daripada akting para aktor hebat di televisi. namun itulah kenyataannya, kita bisa dibangunkan kapan saja dari kepalsuan ini. Dalam kondisi siap maupun tidak siap, mau tidak mau, itulah hakikat kehidupan yang tidak akan mungkin pernah abadi ini dan tidak satupun yang mampu menolaknya. percayalah, Islam adalah rahmatan lil alamin. maka perintah berjilbab pun merupakan sebuah rahmat, hal ini menunjukkan begitu Islam ingin meninggikan derajat wanita. bagaikan bunga yang dulunya kering terinjak-injak, kini dengan adanya Islam, wanita telah menjadi bunga musim semi yang bermekaran. Jilbab bukanlah sesuatu yang membawa keburukan namun justru sebuah kebaikan yang indah, jilbab inilah yang akan melindungi kita sebagai kaum wanita dari fitnah dan gangguan. namun bukan berarti mereka yang berjilbab akan sepenuhnya bebas dari berbagai bentuk gangguan, hanya saja mereka yang tidak berjilbab tentunya akan lebih rentan terhadap gangguan tersebut dibandingkan mereka yang berjilbab. Itulah hijab, hanyalah sebuah kain lembut namun layaknya perisai prajurit perang bagi wanita itu sendiri.
Jilbab merupakan identitas bagi seorang muslimah. Dengan jilbab, maka orang-orang dapat mengetahui bahwa kita adalah seorang muslimah. Jika alasan ukhti untuk tidak berhijab adalah karena yang penting ukhti menunaikan kewajiban shalat, puasa, zakat, berbuat baik sesama manusia dan sebagainya, maka pola pikir tersebut haruslah menjadi sebuah kesalahan yang nyata. memang benar, shalat fardhu, shalat sunnah, berpuasa ramadhan, berpuasa sunnah senin-kamis, zakat dan sebagainya adalah sebuat bentuk ketaatan dari seorang hamba terhadap Rabb-nya. namun, bukankah kita melakukan itu semua untuk mendapatkan ridho-Nya? maka anggaplah dengan memenuhi perintah berhijab ini maka akan menambah kelengkapan ketaatan ukhti untuk memperjuangkan ridho dariNya. Tidaklah lengkap sebuah rumah dengan segala pondasinya tanpa adanya pagar untuk melindungi rumah tersebut. kita umpamakan diri kita sebagai rumah dengan pondasi shalat, puasa dan zakat. oleh karena itu, kita membutuhkan jilbab sebagai pagar kita agar kita terlindungi. Berjilbab tidaklah harus terlebih dahulu memiliki akhlak yang baik, justru berjilbab haruslah disegerakan. karena merupakan langkah awal kita dalam memperbaiki segala keburukan yang ada pada diri kita. bagaimana jika kita tidak akan pernah sempat memperbaiki akhlak kita dan tidak sempat mengenakan hijab? sekali lagi, sungguh kita adalah manusia yang merugi. Yakin dan percaya, jilbab akan lebih mendekatkan kita kepada-Nya dari dulu yang jauh menjadi lebih dekat. menjadi lebih nyaman. menjadi lebih tentram.
"A hijab doesn't represent how religious you are. but it's a reminder that even when your imaan is low, you still belong to Islam."
Ada juga yang mengatakan bahwa mereka belum dapat hidayah. sungguh alasan ini sangatlah menggelitik, hidayah tidak mungkin datang jika kita tidak mencarinya bukan?. jika kita pikirkan secara logis, akankah uang datang dengan sendirinya apabila kita tidak bekerja? oleh karena itu, mulailah mencari hidayah tersebut dengan banyak mengingat-Nya dan menunaikan perintah berhijab untuk-Nya.
Peringatan bagi suami yang membiarkan istri dan anaknya tidak berhijab
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Tidak masuk surga orang yang durhaka terhadap orang tuanya, dayyuts (suami yang membiarkan keluarganya bermaksiat), dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al Baihaqi, shahih). Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An Nawawi membuat judul bab: “Bab wajib (bagi seorang suami) untuk memerintahkan istrinya dan anak-anaknya yang sudah mumayyiz serta semua orang yang ada dalam tanggung jawabnya untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan melarang mereka dari semua penyimpangan serta wajib mengatur mereka serta mencegah mereka terhadap hal-hal yang dilarang agama”. Oleh karena itu, suami tentunya memegang tanggung jawab yang sangat besar bagi keluarganya terutama menyangkut menaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Baiklah, mungkin cukup sekian untuk post kali ini. Semoga bermanfaat dan dapat membangunkan hati kita untuk segera berhijab untuk-Nya. Atas segala kekurangannya mohon dimaafkan, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar